Copyright © Perjalanan Hidupku
Monday, May 6, 2013

Aku Egois, kenapa?

Sepertinya bercerita lewat tulisan emang lebih aman dari pada bercerita dengan yang lainnya. Setiap hari dan setiap kali, hampir diri ini tak pernah tak mengeluh. Entah ingin ini, mengapa dia bisa begini, kenapa aku begini yang ujung-ujungnya mengapa aku terlahir dari keluarga yang seperti ini. Mungkin terasa tak adil, ibuku, 4 bersaudara dan beliau anak sulung. Anak kedua, ketiga, dan keempat bisa dibilang sangatlah mapan. PNS, pengusaha konveksi, dan pengusaha kelapa sawit plus pedagang baju dll di Sumatera. Sedangkan ibuku hanya seorang buruh pabrik rokok yang treletak 4 km jauhnya dari rumah. Memang dulunya waktu muda kata ibu, beliau emang bekerja di Pabrik Rokok Kebo. Dan bisa ditebaklah gaji seorang karyawan borongan pabrik rokok.

Ibu bercerita kalau dulu waktu kecil beliau memang tidak disekolahkan. Disuruh untuk momong adik-adiknya yang masih kecil. Sedangkan adik-adiknya yang sekarang menjadi om dan bulikku disekolahkan hingga baca tulis. Ibuku??? baca maupun menulis sama sekali gak bisa. Itu cerita tentang ibuku. Kalau ayahku? Dan namanya orang jaman dulu menjodohkan memang gak memikirkan dengan masa depannya bagaimana yang bakal terjadi. Ayahku bisa dibilang sepuluh tahun lebih muda dari ibuku atau malah lebih. Katanya, dulu beliau kalem dan gak neko-neko. Makanya sama simbah buyutku dijodohkanlah sama ibuku. Lagi dan lagi, beliaupun tak bisa baca dan tulis. Padahal katanya sekolah SD sampai kelas 4 dan gak tamat. Dua-duanya buta aksara semua dan bisa ditebaklah kehidupan bagaimana yang terjadi.

Ayahku hanya seorang buruh, jangan men-judge bahwa pasti pekerjaannya sangar. Tidak sama sekali, beliau menjual tenaganya untuk mendapatkan uang. Misal, macul sawah, ngerek pari, pasti kebagian yang nggenjot erek. Yang seperti itulah, dan lebih banyak nganggurnya. dan kerjaan sehari-harinya pasti ngaret suket. Kalau dihitung-hitung gaji maksimal ngepol pol pol selama sebulan keduanya tidak sampai 500rb. Wow...., how poor we are. Dibandingkan omku yang suami istri PNS, bulikku; anak ketiga yang pengusaha konveksi, dan bulikku; anak keempat yang pengusaha kebun kelapa sawit dan pedagang.

Dan kembali lagi kepada diriku. Diriku yang angkuh, diriku yang gengsi, diriku yang kemaki selalu menuntut hal-hal yang lebih. Selalu iri kepada si B yang pakai baju-baju yang bagus dan banyak. Melihat J dengan sepatunya yang bagus. Melihat A dengan jam tangan, tas yang dengan harga woooow.

Seharusnya kamu berbangga diri chim punya orang tua yang begitu luar biasa hebatnya seperti mereka. Orang tua yang tak bisa baca tulis, lulus SD-pun tidak. Tapi mereka, menghidupimu setiap bulannya di Jakarta sampai sekarang. Kamu yang selalu menghambur-hamburkan uang untuk kesenanganmu. Mentraktir teman, beli makan yang memanjakan lidah kuthomu.

Dan sekarang semester 5 tingkat III. Barang-barang berharga di rumah bener-bener habis untuk membiayai hidup anak yang menjadi harapan mereka. Sepeda motor kesayanganku pas SMA yang menjadi tumbal awal, 2 sapi atau malah 3, dan tegalnya bapak. All of them was sold for me. Pasti kalau ayah-ibu temen-temen yang lain sudah terjamin tiap bulannya. PNS mana yang tidak terjamin gaji tiap bulannya. Iri sekali dg mereka yang tak perlu khawatir akan uang tiap bulannya. Sedangkan aku? Terkadang bingung bagaimana caranya biar orang tua tak kerepotan. Main kuislah, main blohlah, segala macam biar dapat duit. Bahkan pernah menangis di dalam kamar memikirkan betapa beratnya bagi bapak-ibuku.

Begitu rumitnya yang terjadi di dalam keluargaku. Dan lagi-lagi karena uang. Padahal dulu omku pernah berjanji bakal membiayai kuliahku, bulikku juga bakal memabntu. Tapi yang terjadi mereka mimikirkan kepentingan mereka sendiri. Omku yang beli lagi tegal yang katanya 30juta makanya harus ngutang di bank. Gaji bulanannya kepotong buat bayar angsuran. Ditambah lagi yang kemarin membangun rumah lagi yang katanya buat menghangatkan simbah. Yang padahal pada intinya itu untuk kepentingan dirinya sendiri. Dan yang terbaru adalah tak tahu kenapa bulikku ketiga malah menguliahkan anaknya. Padahal kalau dilihat dari otaknya gak bakal mampu. Dan pasti duit bakal terkuras buat anaknya itu. Dan gak ada kesempatan yang namanya bantu membantu aku. Bulikku keempat masa bodohlah, dianya di Sumatera. Padahal kalau dilihat beliaulah yang paling kaya raya. Kebun sawit berhektar-hektar, mobil inova, motornya banyak, bahkan motorku dulu juga dibelinya.

Biarlah, nasib ibuku emang agak kurang mujur bila dibandingkan dengan mereka. Paling enggak ibuku punya aku, punya adikku yang nantinya bakal memakmurkan hidupnya. Padahal kalau dilihat ibuku itu pintar. Dan itu menurun padaku dan adikku. Tunggu dua tahun lagi paling tidak. Disaat anakmu ini menjadi PNS Kemenkeu. Bisa membangunkan rumah megah untukmu yang sekarang masih berlantaikan tanah. Aku juga akan membangunkan kamar mandi yang layak untuk kalian mandi. Akan aku bangun dapur untuk memasak yang bagus agar tiap harinya bisa memasakkan untukku. Kubelikan lemari es yang berisi buah-buahan segar yang bakal mengenyangkan perutmu. Memamkmurkan hidupmu hingga kau tak harus lagi memeras keringat tiap hari. Bekerja dari jam 6 pagi sampai sore hanya untuk uang 20rb. Semuanya itu tak harus kalian lakukan di 2 tahun lagi.

Ya Allah, maafkanlah aku yang selalu mengeluh yang selalu merasa kekurangan, yang selalu iri dengan teman-temanku. Aku hanya meminta Engkau memberi umur yang panjang sehingga aku bisa mengangkat derajat kedua orang tuaku, bisa membalas jasa-jasa mereka, dan selalu memakmurkan mereka. I Love Them ya RABB!!

Senin, 20 November 2012
PJMI, Tangerang Selatan

1 komentar:

Please add your comment. But the polite, and not excessive.