Copyright © Perjalanan Hidupku
Saturday, October 31, 2015

Aku

Aku bernama lengkap Muhammad Rochim. Mulai sejak SMP lebih akrab dipanggil ochim. “R”-nya hilang. Muhammad artinya “orang yang terpuji”, Rochim artinya “penyayang”. Mungkin itulah doa yang diharapkan orang tuaku atas namaku. Aku terlahir di Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah. Pada hari Kamis Pahing, 10 September 1992. Ayahku bernama Suyamto, golongan darah O. Ibuku bernama Sumi, golongan darah AB. Secara ilmu biologi, antara O dan AB maka turunannya bisa A, B, AB, dan O. Dari ke empat probabilitas itu golongan darah B mengalir dalam tubuhku. Sedangkan adikku A. Iya, aku dua bersaudara, laki-laki semua.


Selama 18 tahun aku besar bersama orang tuaku. SD masih satu kecamatan, SMP sudah beda kecamatan, SMA mencoba di kota yang berbeda. Dan di umur 18 tahun menjajal hidup di perantauan untuk melanjutkan studi kuliah.

Aku memiliki tinggi badan 168 cm. Naik 3 cm semenjak pertama kali punya SIM C. Masih ingat dalam ingatanku tertulis angka 165 cm di kartu SIM C itu. Berat badan sekarang antara 56-58 kg. Tak pernah bisa lebih dari itu. Itu sudah lebih baik dari pada sewaktu SMA yang hanya 45-48 kg.

Aku tak suka sepak bola, palagi menonton pertandingan bola. Tak pernah main badminton, tak pernah menonton pertandingan badminton. Lalu olahraga apa yang aku suka? Entahlah. Dulu waktu SMP bisa juara 3 sprint sekelas. Bisa lompat jauh sampai hamper 4 meter. Lompat tinggi.

Tahun 2013-2014 punya hobi mendaki gunung, ngecamp di pantai. Aku suka poker, suka baca komik one piece dan naruto. Suka nonton anime one piece dan naruto pula.

Aku, dulu pernah ingin menjadi guru SD. Simpel, guru SD itu enak. Saat murid libur aku pun juga ikut libur. Apalagi jam kerja sampai jam 12 siang. Berbeda dengan kenyataan pekerjaanku sekarang. Senin sampai dengan Jumat dari pukul 07.30-17.00.

Aku, yang kuinginkan sekarang tak lebih dan tak kurang adalah ingin membahagiakan orang tuaku. Merenovasi gubuk tua yang seumur denganku agar lebih layak dihuni. Menyekolahkan adikku sampai lulus. Demi kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Tapi aku, juga berharap sebelum umur 25 tahun sudah mengikrarkan janji suci dengan wanita yang aku cintai dan menerima aku apa adanya. Kemudian membangun rumah tangga bersama, rumah sederhana. Aku, dalam doaku berharap dikaruniai anak kembar. Anak-anak yang lucu yang akan selalu mengisi hari-hariku dengan tawa mereka. Selepas kerja, capek pun bakal sirna. Karena ada mereka, calon istriku, dan calon anak-anakku.

Aku yang sekarang, sebentar lagi 23 tahun. Selalu berdoa apa yang ada dalam angan-anganku itu bisa terjadi. Amin


Tabanan, 30 Agustus 2015.

0 komentar:

Post a Comment

Please add your comment. But polite, and not excessive.